Take Over Kredit Rumah

Sudah tahukah kamu mengenai take over kredit rumah (KPR)? Tempat tinggal merupakan sebuah kebutuhan primer yang juga dapat dijadikan aset karena harganya yang cenderung stabil dan naik. Namun, dengan harganya yang semakin tinggi, banyak yang mencari alternatif cara untuk memperolehnya dengan KPR serta take over kredit.

Take over KPR merupakan sebuah tindakan pengalihan KPR sebuah properti kepada pihak lain yang dilakukan secara sah berdasarkan sebuah perjanjian yang berlaku di bawah aturan hukum tertentu. Adapun beberapa alasan dilakukannya take over KPR ini antaranya, memperoleh suku bunga yang lebih ringan, membeli sebuah rumah yang lebih besar (upgrade), kebutuhan keuangan mendesak untuk keperluan lain.

Beberapa take over yang lazim terjadi dan dipraktikkan adalah sebagai berikut:

Take Over Bank ke Bank

Take over berikut terjadi antar bank dan biasanya terjadi akibat penawaran suku bunga yang lebih rendah oleh bank lainnya sehingga seseorang tertarik untuk mengajukan KPR baru dan mengalihkan KPR lamanya ke bank tersebut. Syarat pengajuan take over ini sebenarnya serupa dengan syarat dan ketentuan pengajuan KPR baru. Namun, salah satu syarat tambahannya adalah berupa sertifikat rumah yang akan di-take over sehingga proses take over baru dapat dilakukan jika kamu selaku pembeli memiliki sertifikat rumah tersebut. Biasanya sertifikat rumah tersebut baru terbit sekitar setahun setelah proses KPR sehingga dengan kata lain proses take over umumnya baru dapat dilakukan setahun setelah KPR lama berlangsung.

Take Over Jual

Banyak orang yang menjual rumah yang masih dalam proses KPR karena beberapa alasan, seperti menemukan rumah lainnya yang lebih baik atau kebutuhan dana mendesak sehingga terpaksa menjual rumah.

Kamu dapat membeli rumah dengan status KPR masih berlangsung ini dimana pihak-pihak yang terkait diantaranya, pemohon take over, penjual rumah dalam status KPR masih berlangsung, pihak bank selaku penyedia dana, pihak notaris yang mengurus seluruh dokumen pengalihan kredit. Prosedur pengajuan take over jual ini serupa dengan pengajuan KPR pada umumnya.

Namun, kamu wajib hadir di bank bersama dengan pihak penjual rumah dan membayarkan sejumlah biaya take over yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (kamu sebagai pemohon take over dan penjual rumah). Pengecekan dan appraisal akan dilakukan seperti biasa, dan jika pengajuan kamu disetujui, maka pihak bank akan mengeluarkan Akta Jual Beli (AJB) dan SKMHT.

Take Over Bawah Tangan

Take over bawah tangan sebenarnya serupa dengan take over jual, namun letak perbedaannya adalah tidak ada pihak bank yang dilibatkan dalam transaksi ini, sehingga pihak yang terlibat hanya pemohon take over, penjual rumah Bandung dalam status KPR masih berlangsung, pihak notaris yang mengurus seluruh dokumen pengalihan kredit. Namun, jenis take over ini sangatlah berisiko dan tidak dianjurkan bagi kamu sebagai pemohon take over. Mengapa demikian? Hal tersebut dikarenakan pihak bank yang merupakan pihak penyedia dana KPR tidak akan menyerahkan sertifikat kepemilikan kepada kamu yang namanya tidak tercantum dalam sertifikat tersebut. Proses pengalihan umumnya hanya dilakukan di depan notaris saja.

Potensi masalah yang akan terjadi adalah setelah kamu melunasi seluruh KPR dan berniat mengambil sertifikat ke bank, kemungkinan besar pihak bank tidak akan memberikannya dengan mudah sehingga akan ada biaya yang perlu kamu tanggung untuk menutup kerugian ini.

Prosedur over kredit:

Pelaporan ke Bank

Pihak pembeli sebaiknya mengajak pihak penjual untuk bersama-sama menemui pihak bank penerbit KPR rumah terkait untuk memberitahukan rencana transaksi pengalihan kredit tersebut.

Pemeriksaan

Pihak bank kemudian akan melakukan proses pemeriksaan terhadap pihak pembeli untuk mengetahui apakah pembeli layak atau tidak untuk memperoleh kuasa tersebut. Pemeriksaan yang dilakukan serupa dengan pemeriksaan pada pengajuan KPR baru, seperti pengecekan riwayat kredit dan pendapatan rutin pembeli.

Persetujuan

Setelah proses pengecekan berlangsung dengan lancar, pihak bank akan menyetujui debitur baru dan mengabsahkan persetujuan tersebut. Dengan demikian, akan ada proses balik nama di sertifikat dan nama debitur yang melunasi angsuran sehingga pihak penjual sudah tidak berhak atas apapun terhadap KPR rumah tersebut.

Setelah kamu disetujui untuk menjadi debitur baru, kamu akan diberlakukan layaknya pengaju KPR baru, sehingga akan muncul biaya-biaya KPR dasar seperti biaya provisi dan biaya notaris.

Tips Sebelum Memutuskan untuk Take Over Kredit Rumah

Secara singkat, saat kamu merencanakan untuk melakukan take over kredit rumah Bandung baik apapun jenisnya, sebaiknya kamu perhatikan beberapa hal berikut ini terlebih dahulu:

  1. Apa jenis take over yang akan kamu lakukan dan apa saja kelebihan serta kekurangannya.
  2. Bagaimana keamanan dan risiko take over yang akan kamu lakukan.
  3. Syarat dan ketentuan take over KPR yang akan kamu lakukan.
  4. Biaya-biaya yang mungkin muncul dalam prose take over
  5. Prosedur take over KPR yang akan dilakukan.
  6. Kapan sebaiknya kamu melakukan take over KPR tersebut.

Kamu akan memperoleh kesepakatan yang lebih aman dan menguntungkan jika kamu lebih teliti dalam mengerjakannya. Dengan mempelajari proses take over KPR dengan lebih saksama kamu akan mengantisipasi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.